The Marvellous World of Belahan Jiwa

Sabtu, 28 November 2009


Although some relationships are mutually abusive, more frequently there is an imbalance of power in abusive relationships. While abuse may take the form of physical violence, abuse can also occur on an emotional and verbal level. Here are some steps to help you deal with an abusive partner.

When you are in love with someone, the relationship should bring you joy and a sense of emotional well-being. People who are in a relationship often stand as support systems for one another and share each other's problems and strive together to build a better life and future. However, there is the other side to love, where instead of bringing you happiness, it could be the worse thing in your life.

An abusive relationship can affect an individual's mental and physical well-being. Abusive relationships are not always physical in nature but can even be mental or emotional. If you feel you are in a relationship where you are being abused in any way - physically or emotionally, read on for tips on how to deal with the unfortunate situation:

How to get out of an abusive relationship?

Confide

Many people who are in an abusive relationship do not seek help because they are afraid of social pressures or are scared of their partner. But as long as you don't let someone know that you are suffering, you might never find a way out. If your partner is abusive towards you, talk to someone whom you trust and let them know about your strife. A close friend or family member can share in your sorrow and even help you get out of the relationship. There is no point making yourself suffer because you fear losing your partner or what society might think. In fact, maybe your partner should also get help or go for counseling. But the first step is to accept it and let someone know.

Back up

After you have confided in someone about your problem, make a plan to get yourself out of the situation. You could confront your partner (if you are afraid to do this alone, take someone with you), and move out of the house and start with giving yourself and him or her some alone time. This will help you figure out what you need to do next. Tell your partner things need to change and try to build your life so you don't have to depend on your partner both financially or emotionally.

Get Help

If you don't have friends and family or are too afraid to go to them then get professional help. Seek out institutes or a counsellors and ask them to help you with your situation. If your partner is beyond help and it is impossible to talk to him or her without the threat that they might hurt you, report them to the authorities in order to ensure your safety. But make sure your safety is your first priority. Its better to safe than sorry. You are just doing this for your self defense and there is nothing wrong in thinking about your good and getting rid of such a relation.

Sometimes the abusive partner might not understand that you need to leave and might threaten you or force you stay with them. But you must find a way to get away from this person at any cost for your own sake.

Worst Case Scenario

If you feel that none of the above will work, and if your partner is abusive to the extent that you might think your life is in danger, inform the cops. There is no point trying to sort things our or being careful about things when your life is in danger. Sometimes abusive people need their victims to be around them because it is the victims who give them a sense of power. Therefore, as ironic as it may sound, they need their victims and will do anything to make sure that they do not lose the abused. Which is why there is a chance that if you tell this person you won't take their abuse any longer and want to leave, they might do anything to hold you back and in the process cause some serious harm. So if you feel like this person is a threat to your life, immediately call the police.

The Children

If you have been in this relationship long and share children with the abusive partner, then you need to look out for yourself and your children. Do not let the abusive partner blackmail you with your children. You cannot stay with an abusive person, simply because you share a child with him or her. Besides, your child will probably be better off without the constant abuse and if the abusive partner reforms and changes their ways you can always go back. Act as fast as you can before its too late.

You have to be strong and take hold of your life. Being in such a relation can destroy your happiness. You have a right to be happy, so if you are in an abusive relationship, get help and do yourself some justice. It is your life and you deserve to be happy, so start making changes now!

By Michael Douglas

* taken from www.buzzle.com/editorials/8-27-2006-106755.asp *
read more "Abusive Relationship - Are You Threatened by Your Love?"

Selasa, 24 November 2009


Berita di media massa antara lain diwarnai oleh peristiwa kekerasan dalam rumah tangga. Korbannya kalau bukan istri adalah anak-anak. Sebetulnya bentuk kekerasan itu bukan hanya berupa penyiksaan fisik, tapi juga secara psikis.

Secara garis besar kekerasan dalam rumah tangga dapat dibagi dua, yaitu kekerasan fisik seperti pemukulan, penyiksaan badan, pemerkosaan, dan lain-lain, melainkan juga penyiksaan secara psikis atau yang sering disebut batin. Misalnya membatasi ruang gerak, merampas kebebasan, melontarkan kata-kata yang tidak menyenangkan atau menekan perasaan, dan sebagainya.

Apa pun bentuk kekerasan itu, semuanya memberikan dampak yang sangat buruk bagi korbannya, yang umumnya adalah istri. Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan yang dapat membantu Anda mengonfirmasi apa yang sesungguhnya terjadi pada rumah tangga Anda. Terjadi kekerasan emosional ataukah sungguh-sungguh merupakan rumah tangga yang bahagia?

Tanda-Tanda Siksaan

1. Apakah pasangan gampang tersinggung, kecewa, dan marah terhadap Anda, kadang beberapa kali seminggu atau bahkan sering? Apakah dia kecewa pada Anda meskipun Anda tidak bermaksud membuatnya kecewa? Apakah Anda sering terkejut dengan kemarahannya atau ledakan emosinya yang mendadak? Apakah kemarahannya ditujukan langsung kepada Anda, atau sesuatu yang menurut dia telah dilakukan/tidak Anda lakukan? Apakah dia menyalahkan Anda atas meledaknya emosinya, kemarahannya, atau kekecewaannya? Apakah kepada Anda dia menyangkal kemarahan atau kekecewaannya? Apakah Anda sendiri mempertanyakan bahwa apa yang telah Anda lakukan seperti selama ini memang membuatnya marah?

2. Apakah ia menolak untuk mendiskusikan hal-hal yang telah membuatnya kecewa, atau menuduh Anda ingin memulai pertengkaran jika mengajaknya berdiskusi? Apakah Anda merasa bahwa masalah yang muncul tidak pernah terselesaikan? Apakah Anda merasakan tidak mudah, tidak bahagia, tertekan, atau terganggu oleh masalah-masalah yang tak terselesaikan itu?

3. Apakah dia sering salah mengerti terhadap perhatian yang Anda berikan? Apakah Anda merasa bingung dan frustrasi akibat salah pengertian yang ditunjukkannya terhadap setiap tindakan Anda?

4. Apakah Anda merasakan telah kehilangan masalah utama dalam hubungan Anda, seperti soal anak, tabungan, rencana pensiun, dan lain-lain karena kurangnya komunikasi sehari-hari telah memakan energi Anda? Misalnya, apakah Anda sering khawatir bahwa dia akan salah mengerti tentang sesuatu hal yang dia pikir telah Anda katakan atau Anda pikir dia katakan? Apakah urusan sehari-hari telah memakan seluruh energi Anda?

5. Apakah Anda kadang-kadang merasa sepertinya ada yang salah dengan diri Anda? Apakah Anda kadang-kadang merasa ada sesuatu yang salah atau buruk, tapi tidak dapat menjelaskan apa itu atau kenapa?

6. Apakah pasangan Anda penuh rahasia? Apakah dia jarang, atau sekadar pernah, menceritakan pikirannya atau rencananya dengan Anda atau mendiskusikan suatu masalah dengan Anda?

7. Apakah pasangan Anda hampir selalu tidak setuju dengan Anda? Jika Anda bilang langit itu biru, apakah dia bilang abu-abu misalnya? Jika Anda bilang film itu bagus, dia bilang jelek? Apakah Anda selalu dibuat agar merasa diri Anda salah sedangkan dia selalu benar?

8. Apakah Anda dihukum jika berkata “tidak” ataukah Anda merasa dibuat agar merasa tidak punya hak untuk bilang “hentikan semua ini!”? Apakah Anda merasa harus mengabdikan diri kepadanya demi terciptakan kedamaian di dalam rumah tangga?

9. Apakah pasangan Anda marah atau cenderung mengelak jika Anda mendekatinya untuk mendiskusikan suatu masalah? Apakah Anda menutup mulut dan menyimpan semuanya sebagai masalah Anda sendiri?

10. Apakah Anda merasa bahwa pasangan memegang kuasa dalam hubungannya dengan Anda? Apakah Anda harus meminta izinnya untuk melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu, seperti ketika Anda kanak-kanak dulu? Apakah Anda sering meminta maaf kepadanya atas perilaku Anda? Apakah kekuasaan dia yang berlebihan terhadap Anda itu telah membuat Anda merasa “sangat butuh” dan “rendah” terhadap dia?

11. Apakah Anda secara perlahan-lahan telah berhenti berbicara atau tidak pernah lagi menemui keluarga Anda? Apakah Anda telah kehilangan kontak dengan teman-teman Anda? Apakah ia mengkritik teman-teman atau mengecilkan anggota keluarga Anda? Apakah dia memprotes ketika Anda mengunjungi mereka, dan Anda seketika itu juga kembali ke rumah hanya untuk menghindari konfrontasi atau pertengkaran? Apakah perilaku pasangan Anda sering membuat Anda malu? Apakah perilaku Anda yang “merendahkan diri terhadapnya” itu membuat Anda malu?

12. Apakah Anda berpikir bahwa semuanya merupakan kesalahan Anda, sehingga jika Anda dapat memperbaikinya maka semua hal dalam hubungan Anda dengan dia tidak akan ada masalah lagi?

13. Apakah Anda sering memberikan pelayanan seksual hanya supaya terjaga kedamaian? Apakah Anda melakukan hubungan seks atau memenuhi permintaan seksual yang tidak masuk akal, bahkan ketika Anda tidak menginginkannya?

14. Apakah dia menggunakan obat terlarang atau minuman beralkohol? Apakah kepribadiannya berubah karena itu? Apakah Anda pribadi merasa tidak senang ketika melihat dia mulai membuka tutup minuman beralkohol?

15. Apakah dia senang dan menjadikannya sebagai bahan tertawaan jika ada kekurangan atau ketidaksempurnaan Anda?

16. Apakah dia bisa tertawa atas kesalahan yang diperbuatnya, atau atas dirinya sendiri, atau mengakui kelemahan dan kekurangannya?

17. Apakah dia segera dan dengan mudah mengakui ketika berbuat salah? Dapatkah dia meminta maaf atas perilakunya yang buruk? Apakah dia meminta perbuatannya dimaklumi dan menimpakan kesalahan pada orang lain atau sesuatu yang lain? Apakah dia menudingkan jarinya kepada Anda dan membuat Anda merasa bahwa Andalah yang menjadi penyebab kekecewaan atau kesalahan yang diperbuatnya?

18. Apakah dia yang membuat semua keputusan dalam hubungannya dengan Anda? Apakah dia yang merencanakan perjalanan, keuangan, liburan, pembelian mobil, mendisiplinkan anak, hingga soal pensiun?

19. Apakah dia mengontrol, membatasi atau tidak menyetujui pengeluaran Anda? Apakah dia membuat pengaturan keuangan yang ketat, membuat Anda harus menerima bantuan, atau memiliki kebebasan penuh versi dia? Apakah dia membuat Anda tetap tergantung secara finansial terhadapnya?

20. Apakah Anda akan merasa ketakutan atau menemui kesulitan jika dia mendapati Anda membaca kuesioner ini?

Cukup Tiga
Menurut Tigredd Luv yang menyusun kuis ini, jika Anda menjawab “Ya” tiga saja dari pertanyaan tersebut di atas, itu sudah dapat menjadi pertanda bahwa Anda terlibat dalam hubungan yang secara emosional menyiksa.

Mungkin Anda menemukan diri Anda sering mengalami depresi dan bertanya-tanya mengapa. Mungkin Anda hanya merasa tidak bahagia, tapi tak dapat memastikan apa yang menjadi penyebabnya. Atau Anda mungkin menemukan diri Anda bodoh, tidak kompeten, salah, atau tidak baik. Itu semua merupakan pertanda bahwa Anda tersiksa secara emosi, kata Luv.

Jika hal buruk itu terjadi pada Anda, segeralah berkonsultasi kepada psikolog keluarga. Dengan bantuan ahli, mudah-mudahan Anda dan pasangan dapat memiliki hubungan yang lebih setara dan sehat, tanpa penyiksaan fisik maupun psikis.

oleh: M.M. Nilam Widyarini, MSi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Guna Dharma, Jakarta

* disarikan dari Kompas.com *
read more "TEST , Emosi Anda Tersiksa atau Tidak ..!"

Jumat, 20 November 2009


Rendahnya pemahaman masyarakat tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu kendala penanganan KDRT terhadap perempuan.

"Kebanyakan masyarakat masih menganggap itu adalah urusan rumah tangga, jadi tidak mau turut campur. Terutama jika menyangkut kekerasan fisik oleh suami," kata Asnifriyanti Damanik, S.H., Wakil Ketua Pengurus LBH-APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan).

Sebetulnya, apa saja yang termasuk KDRT?

1. Kekerasan fisik
Adalah segala perbuatan suami yang menimbulkan rasa sakit atau luka pada istri. Para korban mengaku ada yang dipukul, ditendang, diseterika, disundut dengan rokok, kepala dibotakin sampai disiram air keras.

2. Kekerasan psikis
Yaitu tindakan suami yang mengarah pada kondisi istri (korban) merasakan ketakutan. "Istri menjadi tertekan, lalu depresi, karena ruang geraknya jadi terbatas dan tak lagi merasakan kebebasannya sebagai individu." Contohnya pernyataan suami pada istrinya, "Kamu, kan, hidup menumpang." Atau suami mengancam istri untuk tidak ke luar rumah, dan kalau melanggar, harus menanggung akibatnya.

3. Kekerasan seksual
Ini lebih ke arah pemaksaan hubungan seks. Apalagi sekarang banyak yang mengajarkan cara atau teknik berhubungan seks melalui VCD atau media lain. Akibatnya, suami ingin menerapkannya tanpa kesepakatan dengan sang istri lebih dulu. Akibatnya, istri mengalami tekanan batin. Di satu sisi, mereka merasa jijik, tapi di sisi lain takut ditinggalkan suami jika menolak.

4. Kekerasan ekonomi
Adalah bentuk kesulitan ekonomi yang dialami oleh istri karena suami tidak memberi nafkah. Misalnya, setiap hari istri dijatah Rp 10 ribu untuk keperluan rumah tangga. "Cukup nggak cukup, harus cukup. Bahkan, ada yang tiap bulan harus bikin laporan keuangan, berapa pemasukan dan pengeluaran keluarga."

Biasanya, apa yang dilakukan suami semata-mata karena latar belakang keluarganya. Salah satu contoh, ibu sang suami sangat royal, sehingga sang ayah-lah yang mengontrol keuangan keluarga. "Nah, ia sering mendengar keluhan ayahnya tentang sifat perempuan yang boros dan suka menghambur-hamburkan uang. Inilah yang kemudian diterapkan pada istrinya."

Hal lain yang masuk kategori ini adalah larangan untuk bekerja. "Jika ini disepakati bersama, tidak ada masalah. Yang jadi masalah, sebelum menikah, calon suami sudah memberi syarat, jika sudah menikah, istri harus berhenti bekerja dan mengurus keluarga saja. Ketika rumah tangga mengalami kesulitan ekonomi, suami tetap bersikukuh istri tidak boleh bekerja." Menurut Asni, dalam kondisi apa pun, istri memiliki hak untuk bekerja, apalagi jika ia punya keahlian.

* taken from http://sukph1nk.multiply.com/journal *
read more "KDRT Bukan Sebatas Kekerasan Fisik"

ShareThis

Related Posts with Thumbnails