The Marvellous World of Belahan Jiwa

Selasa, 24 November 2009


Berita di media massa antara lain diwarnai oleh peristiwa kekerasan dalam rumah tangga. Korbannya kalau bukan istri adalah anak-anak. Sebetulnya bentuk kekerasan itu bukan hanya berupa penyiksaan fisik, tapi juga secara psikis.

Secara garis besar kekerasan dalam rumah tangga dapat dibagi dua, yaitu kekerasan fisik seperti pemukulan, penyiksaan badan, pemerkosaan, dan lain-lain, melainkan juga penyiksaan secara psikis atau yang sering disebut batin. Misalnya membatasi ruang gerak, merampas kebebasan, melontarkan kata-kata yang tidak menyenangkan atau menekan perasaan, dan sebagainya.

Apa pun bentuk kekerasan itu, semuanya memberikan dampak yang sangat buruk bagi korbannya, yang umumnya adalah istri. Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan yang dapat membantu Anda mengonfirmasi apa yang sesungguhnya terjadi pada rumah tangga Anda. Terjadi kekerasan emosional ataukah sungguh-sungguh merupakan rumah tangga yang bahagia?

Tanda-Tanda Siksaan

1. Apakah pasangan gampang tersinggung, kecewa, dan marah terhadap Anda, kadang beberapa kali seminggu atau bahkan sering? Apakah dia kecewa pada Anda meskipun Anda tidak bermaksud membuatnya kecewa? Apakah Anda sering terkejut dengan kemarahannya atau ledakan emosinya yang mendadak? Apakah kemarahannya ditujukan langsung kepada Anda, atau sesuatu yang menurut dia telah dilakukan/tidak Anda lakukan? Apakah dia menyalahkan Anda atas meledaknya emosinya, kemarahannya, atau kekecewaannya? Apakah kepada Anda dia menyangkal kemarahan atau kekecewaannya? Apakah Anda sendiri mempertanyakan bahwa apa yang telah Anda lakukan seperti selama ini memang membuatnya marah?

2. Apakah ia menolak untuk mendiskusikan hal-hal yang telah membuatnya kecewa, atau menuduh Anda ingin memulai pertengkaran jika mengajaknya berdiskusi? Apakah Anda merasa bahwa masalah yang muncul tidak pernah terselesaikan? Apakah Anda merasakan tidak mudah, tidak bahagia, tertekan, atau terganggu oleh masalah-masalah yang tak terselesaikan itu?

3. Apakah dia sering salah mengerti terhadap perhatian yang Anda berikan? Apakah Anda merasa bingung dan frustrasi akibat salah pengertian yang ditunjukkannya terhadap setiap tindakan Anda?

4. Apakah Anda merasakan telah kehilangan masalah utama dalam hubungan Anda, seperti soal anak, tabungan, rencana pensiun, dan lain-lain karena kurangnya komunikasi sehari-hari telah memakan energi Anda? Misalnya, apakah Anda sering khawatir bahwa dia akan salah mengerti tentang sesuatu hal yang dia pikir telah Anda katakan atau Anda pikir dia katakan? Apakah urusan sehari-hari telah memakan seluruh energi Anda?

5. Apakah Anda kadang-kadang merasa sepertinya ada yang salah dengan diri Anda? Apakah Anda kadang-kadang merasa ada sesuatu yang salah atau buruk, tapi tidak dapat menjelaskan apa itu atau kenapa?

6. Apakah pasangan Anda penuh rahasia? Apakah dia jarang, atau sekadar pernah, menceritakan pikirannya atau rencananya dengan Anda atau mendiskusikan suatu masalah dengan Anda?

7. Apakah pasangan Anda hampir selalu tidak setuju dengan Anda? Jika Anda bilang langit itu biru, apakah dia bilang abu-abu misalnya? Jika Anda bilang film itu bagus, dia bilang jelek? Apakah Anda selalu dibuat agar merasa diri Anda salah sedangkan dia selalu benar?

8. Apakah Anda dihukum jika berkata “tidak” ataukah Anda merasa dibuat agar merasa tidak punya hak untuk bilang “hentikan semua ini!”? Apakah Anda merasa harus mengabdikan diri kepadanya demi terciptakan kedamaian di dalam rumah tangga?

9. Apakah pasangan Anda marah atau cenderung mengelak jika Anda mendekatinya untuk mendiskusikan suatu masalah? Apakah Anda menutup mulut dan menyimpan semuanya sebagai masalah Anda sendiri?

10. Apakah Anda merasa bahwa pasangan memegang kuasa dalam hubungannya dengan Anda? Apakah Anda harus meminta izinnya untuk melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu, seperti ketika Anda kanak-kanak dulu? Apakah Anda sering meminta maaf kepadanya atas perilaku Anda? Apakah kekuasaan dia yang berlebihan terhadap Anda itu telah membuat Anda merasa “sangat butuh” dan “rendah” terhadap dia?

11. Apakah Anda secara perlahan-lahan telah berhenti berbicara atau tidak pernah lagi menemui keluarga Anda? Apakah Anda telah kehilangan kontak dengan teman-teman Anda? Apakah ia mengkritik teman-teman atau mengecilkan anggota keluarga Anda? Apakah dia memprotes ketika Anda mengunjungi mereka, dan Anda seketika itu juga kembali ke rumah hanya untuk menghindari konfrontasi atau pertengkaran? Apakah perilaku pasangan Anda sering membuat Anda malu? Apakah perilaku Anda yang “merendahkan diri terhadapnya” itu membuat Anda malu?

12. Apakah Anda berpikir bahwa semuanya merupakan kesalahan Anda, sehingga jika Anda dapat memperbaikinya maka semua hal dalam hubungan Anda dengan dia tidak akan ada masalah lagi?

13. Apakah Anda sering memberikan pelayanan seksual hanya supaya terjaga kedamaian? Apakah Anda melakukan hubungan seks atau memenuhi permintaan seksual yang tidak masuk akal, bahkan ketika Anda tidak menginginkannya?

14. Apakah dia menggunakan obat terlarang atau minuman beralkohol? Apakah kepribadiannya berubah karena itu? Apakah Anda pribadi merasa tidak senang ketika melihat dia mulai membuka tutup minuman beralkohol?

15. Apakah dia senang dan menjadikannya sebagai bahan tertawaan jika ada kekurangan atau ketidaksempurnaan Anda?

16. Apakah dia bisa tertawa atas kesalahan yang diperbuatnya, atau atas dirinya sendiri, atau mengakui kelemahan dan kekurangannya?

17. Apakah dia segera dan dengan mudah mengakui ketika berbuat salah? Dapatkah dia meminta maaf atas perilakunya yang buruk? Apakah dia meminta perbuatannya dimaklumi dan menimpakan kesalahan pada orang lain atau sesuatu yang lain? Apakah dia menudingkan jarinya kepada Anda dan membuat Anda merasa bahwa Andalah yang menjadi penyebab kekecewaan atau kesalahan yang diperbuatnya?

18. Apakah dia yang membuat semua keputusan dalam hubungannya dengan Anda? Apakah dia yang merencanakan perjalanan, keuangan, liburan, pembelian mobil, mendisiplinkan anak, hingga soal pensiun?

19. Apakah dia mengontrol, membatasi atau tidak menyetujui pengeluaran Anda? Apakah dia membuat pengaturan keuangan yang ketat, membuat Anda harus menerima bantuan, atau memiliki kebebasan penuh versi dia? Apakah dia membuat Anda tetap tergantung secara finansial terhadapnya?

20. Apakah Anda akan merasa ketakutan atau menemui kesulitan jika dia mendapati Anda membaca kuesioner ini?

Cukup Tiga
Menurut Tigredd Luv yang menyusun kuis ini, jika Anda menjawab “Ya” tiga saja dari pertanyaan tersebut di atas, itu sudah dapat menjadi pertanda bahwa Anda terlibat dalam hubungan yang secara emosional menyiksa.

Mungkin Anda menemukan diri Anda sering mengalami depresi dan bertanya-tanya mengapa. Mungkin Anda hanya merasa tidak bahagia, tapi tak dapat memastikan apa yang menjadi penyebabnya. Atau Anda mungkin menemukan diri Anda bodoh, tidak kompeten, salah, atau tidak baik. Itu semua merupakan pertanda bahwa Anda tersiksa secara emosi, kata Luv.

Jika hal buruk itu terjadi pada Anda, segeralah berkonsultasi kepada psikolog keluarga. Dengan bantuan ahli, mudah-mudahan Anda dan pasangan dapat memiliki hubungan yang lebih setara dan sehat, tanpa penyiksaan fisik maupun psikis.

oleh: M.M. Nilam Widyarini, MSi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Guna Dharma, Jakarta

* disarikan dari Kompas.com *
read more "TEST , Emosi Anda Tersiksa atau Tidak ..!"

Jumat, 20 November 2009


Rendahnya pemahaman masyarakat tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu kendala penanganan KDRT terhadap perempuan.

"Kebanyakan masyarakat masih menganggap itu adalah urusan rumah tangga, jadi tidak mau turut campur. Terutama jika menyangkut kekerasan fisik oleh suami," kata Asnifriyanti Damanik, S.H., Wakil Ketua Pengurus LBH-APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan).

Sebetulnya, apa saja yang termasuk KDRT?

1. Kekerasan fisik
Adalah segala perbuatan suami yang menimbulkan rasa sakit atau luka pada istri. Para korban mengaku ada yang dipukul, ditendang, diseterika, disundut dengan rokok, kepala dibotakin sampai disiram air keras.

2. Kekerasan psikis
Yaitu tindakan suami yang mengarah pada kondisi istri (korban) merasakan ketakutan. "Istri menjadi tertekan, lalu depresi, karena ruang geraknya jadi terbatas dan tak lagi merasakan kebebasannya sebagai individu." Contohnya pernyataan suami pada istrinya, "Kamu, kan, hidup menumpang." Atau suami mengancam istri untuk tidak ke luar rumah, dan kalau melanggar, harus menanggung akibatnya.

3. Kekerasan seksual
Ini lebih ke arah pemaksaan hubungan seks. Apalagi sekarang banyak yang mengajarkan cara atau teknik berhubungan seks melalui VCD atau media lain. Akibatnya, suami ingin menerapkannya tanpa kesepakatan dengan sang istri lebih dulu. Akibatnya, istri mengalami tekanan batin. Di satu sisi, mereka merasa jijik, tapi di sisi lain takut ditinggalkan suami jika menolak.

4. Kekerasan ekonomi
Adalah bentuk kesulitan ekonomi yang dialami oleh istri karena suami tidak memberi nafkah. Misalnya, setiap hari istri dijatah Rp 10 ribu untuk keperluan rumah tangga. "Cukup nggak cukup, harus cukup. Bahkan, ada yang tiap bulan harus bikin laporan keuangan, berapa pemasukan dan pengeluaran keluarga."

Biasanya, apa yang dilakukan suami semata-mata karena latar belakang keluarganya. Salah satu contoh, ibu sang suami sangat royal, sehingga sang ayah-lah yang mengontrol keuangan keluarga. "Nah, ia sering mendengar keluhan ayahnya tentang sifat perempuan yang boros dan suka menghambur-hamburkan uang. Inilah yang kemudian diterapkan pada istrinya."

Hal lain yang masuk kategori ini adalah larangan untuk bekerja. "Jika ini disepakati bersama, tidak ada masalah. Yang jadi masalah, sebelum menikah, calon suami sudah memberi syarat, jika sudah menikah, istri harus berhenti bekerja dan mengurus keluarga saja. Ketika rumah tangga mengalami kesulitan ekonomi, suami tetap bersikukuh istri tidak boleh bekerja." Menurut Asni, dalam kondisi apa pun, istri memiliki hak untuk bekerja, apalagi jika ia punya keahlian.

* taken from http://sukph1nk.multiply.com/journal *
read more "KDRT Bukan Sebatas Kekerasan Fisik"

Senin, 16 November 2009


The Needy Little Girl

This woman is every man’s worst fear. This type of woman is whiney and frequently verbalizes how desperate she is to get married. What is so frightening about this type of woman is that men can’t often identify her until they are well into a relationship.

Initially, this type of woman appears to be independent. She has been told that she is clingy or needy and often overcompensates by trying to be ultra independent.

However, once she is in a relationship and feels safe, her neediness begins to manifest.

TIP: Ironically, these women would do better to allow men to see some vulnerability right away, which is actually what most men expect, rather than give to everyone else but themselves and then expect a man to make up for their empty feelings.

The Man Hater, Witch (or other like words)

This type is different from all the others in one aspect. Most men will give this type of woman more of a chance and try and win her over, simply because she is a challenge.

Because of her strength (anger), most men don’t want to be in a committed relationship with her (and forget marriage), but they are intrigued with her perceived strength and view it as a conquest if they can get this type into bed.

This type of woman has the competitiveness of a man and the sensitivity of a woman. In an instant, she can switch from being very seductive to emotionally distant.
Put simply, she uses her hatred for men as a shield to avoid being hurt……again.

TIP: These women tend to be very guarded against getting hurt. In relationships, when they do give their heart to a man, they often allow the relationship to proceed too fast, which frequently overwhelms most men. The most important thing they need to learn is how to s-l-o-w-l-y allow a man to capture their heart.

The Career Queen

The common myth is that men are threatened by successful women. Actually, like most myths, there is an element of truth to this, which makes it so appealing. Men are not “threatened” by successful women as much as they feel that a successful woman doesn’t need them.

I have counseled many single, professional women who have told me, “I make good money, own my own house and have a wonderful social life. I don’t need a man to make me happy.” My reply to them is often, “Then why would any man want to be with you? What could he possibly contribute to your life when you are self-sufficient and self-fulfilled?”

Granted, men don’t want a woman who is totally dependent on them, but it is flattering to a man when a confident woman allows herself to depend on them, versus when they don’t appear to need a man at all.

TIP: Most men want to be the center of a woman’s interest, whether that is fair or not, and don’t want her devotion to work placed above her devotion to him.

The Motor Mouth

From a man’s perspective, a talkative woman isn’t good or bad. There is a perception that women use thousands more words per day than men. What most articles fail to mention is that this depends on the topic of conversation.

If the subject is sports, most men will talk a lot more than a woman will. Should the conversation change to something feminine, such as a friend’s baby, the woman will inevitably use more words.

Most women are accused of being too talkative when, in actuality, they are speaking more simply because they are discussing a subject that has great interest to them, not just because “women talk more.”

In addition, most men aren’t good at talking over each other, the way women do effortlessly with their girlfriends. In a woman’s world, I speak, you speak, and everyone speaks together. Just join in the conversation whenever the mood strikes you.

In the world of men, that is considered rude because men view conversation the same as “having the floor” of a debate. In other words, when he speaks, it’s his turn to speak and he is not to be interrupted until he’s done. Now that’s a little overdone, but not far from the truth.

Therefore, when a woman asks a man a question and he proceeds to answer her – and then she begins to interject her opinions for the next 10 minutes – he’ll just quit trying.

TIP: Men aren’t that different from women. Excessive talking is actually a form of conversation hogging. Don’t dominate the conversation unless you know it’s a topic that interests him.

*taken from http://www.relationshipheadquarters.com/understanding-men/4WomenMenAvoid.html*
read more "4 Women Men Avoid"

ShareThis

Related Posts with Thumbnails